Dan BERSERULAH kepada manusia untuk mengerjakan Haji (QS. Al Hajj:27).

Bagi orang-orang yang memenuhi SERUAN Rabbnya, (disediakan) pembalasan yang baik. (QS. Ar Ra’d:18)

KANTOR PERWAKILAN ARMINAREKA PERDANA

Penyelenggara Perjalanan Umroh & Haji Plus sejak 1990
Izin Umroh D/146 th 2012, Izin Haji Plus D/230 th 2012

DIVISI MARKETING LIMA UTAMA SUKSES

ARMINAREKA PERDANA GROUP BERKAH

NUR ANISAH (NO. ID 0037 454 - 01)
JL. SEMOLOWARU ELOK BLOK AL NO. 2, SURABAYA
081 332 998866 (SIMPATI), 08585 268 5353 (INDOSAT), 320 d 0594 (PIN BB)

GROUP BERKAH: JAKARTA: 0815 8706 083, 0815 1308 4181, BOGOR: 0811 10 1468, 0811 11 0496, 0815 6322 2007, BANDUNG: 0878 2415 8085, PARIAMAN: 0821 7026 8922, SURABAYA: 031 7111 3345, MADURA: 0856 4811 1551, 081 2324 3136, 0852 3573 6259, BANJARMASIN: 0856 3106 384, 0812 5134 8831, MATARAM: 081 8366685

PASPOR UMROH

MAU BUAT PASPOR? PASPOR BARU? TAMBAH NAMA? PERPANJANG PASPOR LAMA? PASPOR ANAK? PASPOR HILANG? INFO DAN KONSULTASI: 08585 268 5353

PROMO

GRATIS SPIRITUAL TRAINING PUBLICK SPEAKING

UST R.TEDY MULANA (Motivator Religi Indonesia)

DI PT ARMINAREKA PERDANA: MINGGU, 04 MEI 2014, JAM 08.00 - 17.00 WIB.
Di Gedung Menara Salembah Lantai 5. JL. Salemba Raya No.05 Jakarta Pusat

(Serifikat Ditanda Tangani Langsung Oleh Direktur Marketing Bpk H.Subaebasni & Trainer)

KHUSUS PENDAFTARAN PAKET 13 (GROUP BERKAH)

SEBELUM 28 APRIL 2014

Sejarah Masjid Biru Istanbul Turki



Blue Mosque Istanbul  Turkey

Berkunjung ke Turki, rugi rasanya kalau tak melihat keindahan dan keunikan Blue Mosque atau Masjid Biru. Disebut biru karena masjid ini berhiaskan keramik-keramik berwarna biru yang menutupi dinding dan kubahnya.

Sejenak memandang masjid ini sangat indah dan teduh. Bangunan ini berada di Istanbul Turki dan dibangun oleh Sultan Ahmed I berasal dari Dinasti Ottoman yang menguasai Turki pada abad ke-14. Sultan Ahmed I memerintah Turki mulai tahun 1603 – 1617. Konstruksi masjid mulai dibangun pada tahun 1609, oleh arsitek terkenal pada jaman itu, yaitu Mehmed Aga. Pada tahun 1616, masjid ini selesai dibangun.

Sultan Ahmed I membangun Masjid Biru untuk menandingi bangunan Hagia Sophia buatan kaisar Byzantine yaitu Constantinople. Hagia Sophia berada satu blok dari Masjid Biru. Hagia Sophia dulunya adalah Gereja Byzantine sebelum jatuh ke daulah Turki Ottoman pada tahun 1453 M .

Kembali ke Masjid Biru yang elok nan rupawan ini, memiliki 6 menara, diameter kubah 23,5 meter dengan tinggi kubah 43 meter,  dan kolom beton berdiameter 5 meter. Masjid ini adalah satu dari dua buah masjid di Turki yang mempunyai enam menara, yang satu lagi berada di Adana.

Menurut legenda, Sultan Ahmed I meminta kepada Mehmed Aga untuk membuat menara yang terbuat dari emas. Kata emas dalam bahasa Turki adalah “altin”. Apa mau dikata, sang arsitek salah mendengar. Ia mengira Sultan Ahmed I ingin memiliki masjid dengan 6 menara. Kata enam dalam bahasa Turki bunyinya “alti” dan memang terdengar amat mirip dengan “altin”.

Akhirnya dibuatlah Blue Mosque dengan 6 menara, bukannya 4 menara yang terbuat dari emas. Tadinya Mehmed Aga mengira kepalanya akan dipenggal oleh Sultan Ahmed I, namun ketika selesai, konon Sultan Ahmed I justru terpukau dengan desain 6 menara yang unik itu.

Kabarnya, akibat jumlah menara yang sama dengan Masjidil Haram di Makkah saat itu, Sultan Ahmed I mendapat kritikan tajam sehingga akhirnya beliau menyumbangkan biaya pembuatan menara ketujuh untuk Masjidil Haram.

Yang menarik, sebuah rantai besi yang berat dipasang di atas pintu gerbang masjid sebelah barat. Di masa lalu, hanya Sultan Ahmed I yang boleh memasuki halaman masjid dengan mengendarai kuda, dan rantai ini dipasang agar Sultan Ahmed I menundukkan kepalanya saat melintas masuk agar tidak terantuk rantai tersebut. Ini dimaksudkan sebagai simbol kerendahan hati penguasa di hadapan kekuasaan Ilahi. 

Tidak jauh dari Masjid Biru, terdapat museum Aya Sofya. Selain terkenal dengan keindahan arsitekturnya, Aya Sofya pertama dibangun sebagai katedral, lalu diubah menjadi masjid selama 500 tahun dan sejak pemerintahan sekuler Republik Turki menjadi museum sampai saat ini. Belum lagi istana Topkapi yang menyimpan beberapa peninggalan Rasulullah saw.

Masjid Biru, hingga kini, masih berfungsi sebagai tempat ibadah. Masuk dalam kompleks masjid terbesar di Istanbul ini, kita melewati taman bunga yang dilindungi pepohonan yang rindang. Sebuah tempat wudhu berderet di sisi depan masjid menyambut kita sebelum memasuki bagian dalam kompleks masjid.

Untuk menghormati masjid, wisatawan harus berpakaian sopan saat memasuki ruang masjid. Wanita harus mengenakan kerudung. Penjaga selalu siap mengingatkan di depan pintu masuk. Begitu sampai di dalam, sejumlah tamu Muslim melakukan shalat sunah masjid. Sementara sebagian lain memandang masjid dari bagian shaf belakang. Sebab, bagian depan hanya diperkenankan bagi mereka yang hendak bershalat.

Dari luar, tampaknya tak ada alasan karya arsitek Mehmed Aga yang dibangun pada 1609-1616 ini disebut dengan nama Masjid Biru. Barulah setelah kita masuk ke dalam, tampak bahwa interior masjid ini dihiasi 20.000 keping keramik biru yang diambil dari tempat kerajinan keramik terbaik di daerah Iznik . Kawasan Turki yang terkenal menghasilkan keramik nomor wahid berwarna biru, hijau, ungu, dan putih.

Karpet sutera yang menutup lantai masjid berasal dari tempat pemintalan sutera terbaik dan lampu-lampu minyak yang terbuat dari kristal merupakan produk impor. Banyak terdapat barang-barang dan hadiah berharga di masjid ini, termasuk Al Quran bertuliskan tangan. Keramik yang menghiasi dinding masjid bermotifkan daun, tulip, mawar, anggur, bunga delima atau motif-motif geometris. Terdapat 260 jendela di dalam masjid ini, sehingga bila kita berada didalamnya, suasananya teduh dan sejuk.

Elemen penting dalam masjid ini adalah mihrab yang terbuat dari marmer yang dipahat dengan hiasan stalaktit dan panel incritive dobel di atasnya. Tembok disekitarnya dipenuhi dengan keramik. Masjid ini didesain agar dalam kondisi yang paling penuh sekalipun, semua yang ada di masjid tetap dapat melihat dan mendengar Imam.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar